المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

Penulis: Ustadz H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
Materi Kuliah: Qawa’id Fiqhiyyah

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

KESULITAN MEMBAWA KEMUDAHAN

Makna Kaidah
المَشَقَّةُ berarti kepayahan, kesulitan dan kerepotan.
التَّيْسِيْرَ artinya kemudahan dan keringanan.
Dari sini maka secara bahasa kaidah ini mempunyai pengertian bahwa sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan.
Adapun secara istilah para ulama’, maka kaidah ini berarti :
Hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan kesulitan dan kepayahan serta kerumitan bagi seorang mukallaf (orang yang diberi beban syar’i) maka syariat islam meringankanya agar bisa dilakukan dengan mudah dan ringan. (Lihat Al Wajiz Fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu hal : 218)
Sumber Pengambilan Kaidah
Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan pada kaidah ini, di antaranya :
Dalil Al Qur’an Al Karim
• Allah berfirman :
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak mengiginkan bagi kalian kesulitan.”(QS. Al Baqoroh : 185)

• Allah berfirman :
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seorang jiwa kecuali sesuai kemampuannya.” (QS. Al Baqoroh : 286)
• Allah juga berfirman :
رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al Baqoroh : 286)
• Allah Ta’ala berfirman :
يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنكُمْ
“Allah menginginkan untuk meringankan atas kalian.” (QS. An Nisa’ : 28)
• Firman Allah :
مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ
“Allah tidak hendak menyulitkan kalian.” (QS. Al Ma’idah : 6)
• Allah berfirman :
وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj : 78)
Dalil as-Sunnah :
• Hadits Abu Umamah
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
Dari Abu Umamah berkata : Rasulullah bersabda : “Saya tidak diutus dengan membawa agama Yahudi dan Nashroni namun saya diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.”(HR. Ahmad 5/266 (21788)
• Hadits Abu Huroiroh :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
Dari Abu Huroiroh berkata : “Ada seorang Arab Badui yang kencing dimasjid, lalu para sahabat memarahinya, maka Rasulullah bersabda : “Biarkan dia, tuangkan saja pada kencingnya air satu timba, sesunguhnya kalian diutus untuk membawa kemudahan dan bukan diutus untuk menyulitkan.”(HR. Bukhori 220, Muslim)
• Hadits Aisyah :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
Dari Aisyah berkata : “Tidaklah Rasulullah diberi pilihan untuk memilih antara dua perkara kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selagi hal itu bukan perbuatan dosa. Namun jika itu perbuatan dosa maka Rasulullah adalah orang yang paling jauh darinya” (HR. Bukhori 3560 Muslim 2327)
Semua ayat dan hadits ini memberikan sebuah faedah bahwa agama Islam tidak datang untuk membawa kesulitan akan tetapi datang dengan membawa kemudahan.
Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata :
“Seluruh syariat islam ini lurus dan mudah, Lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan. Lihatlah !!! shalat lima waktu yang wajib dikerjakan dalam satu hari satu malam tidaklah mengambil waktu kecuali hanya sedikit sekali, begitu pula zakat, itu hanya sebagian kecil dari seluruh harta dan itupun harta yang berkembang bukan harta yang tidak berkembang, serta setiap tahun hanya wajib sekali. Begitu juga dengan puasa cuma satu bulan dalam satu tahun. Adapun masalah haji, maka itu hanya wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu melaksanakanya. Adapun kewajiban-kewajiban lainnya, maka hanyalah dilakukan kalau ada sebabnya, semuanya amatlah mudah. Allah juga mensyariatkan banyak sebab yang bisa membantu seseorang agar giat dalam menjalankan semua ibadah tersebut.” (Al Qowa’id wal Ushul Jami’ah oleh Syaikh As Sa’di hal : 20)
Kalau anda cermati maka anda akan mengetahui bahwa tidak ada yang berat dan membawa masyaqqah dalam syariat islam, sebagaimana firman Allah di atas, namun perlu diketahui bahwa sesuatu yang berat dalam syariat itu ada tiga macam :
Macam-macam masyaqqah :
• Masyaqqah yang di luar kemapuan manusia
Maka ini tidak mungkin terdapat dalam syariat islam.
Misalkan : berpuasa sepuluh hari berturut turut siang dan malam, berjalan di atas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungkin disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
• Masyaqqah yang biasa.
Masyaqqah model ini mesti ada dalam semua beban syar’i, karena semua perintah dan larangan pasti akan membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqah model ini terdapat dalam syariat islam dan bukan yang dimaksud dengan ayat dan hadits di atas.
Misal :
Puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, ini pasti ada masyaqahnya akan tetapi dalam kadar yang wajar.
Shalat shubuh, ini juga ada sedikit masyaqqah, karena harus bangun dan berwudlu disaat mungkin masih ngantuk atau udara dingin. Namun semua ini masyaqoh dalam batas yang wajar
Begitu juga mengeluarkan zakat dari sebagian harta dan lainnya.
• Masyaqqah yang sangat amat berat meskipun sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia.
Masyaqqah yang ini juga tidak terdapat dalam syariat islam, karena karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.
Misalnya : Shalat lima puluh kali sehari semalam, seandainya Allah memerintahkannya kepada manusia maka hal ini bisa dilakukan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqah yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Allah tidak mensyariatkan hal ini pada ummat islam.
Masyaqqah yang terdapat dalam syariat islam yang sebenarnya adalah masyaqoh yang wajar, namun suatu ketika menjadi sulit dan berat karena ada sebab tertentu, maka Allah memberikan keringanan dan keluasan kepada hamba-Nya. Misalkan puasa pada siang hari bulan Ramadhan yang asalnya adalah sebuah masyaqqah yang ringan, namun saat sakit atau safar akan menjadi berat. Untuk itu Allah memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa saat itu dan wajib menggantinya pada saat lain, sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqoroh : 185)
Begitu pula harus difahami, bahwa jika Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan sesuatu yang kelihatannya sangat berat, maka harus difahami dengan dua kemungkinan :
• Kita harus meyakini bahwa di balik syariat yang berat tersebut ada hikmah dan tujuan yang jauh lebih besar.
Misalnya : Syariat jihad berperang di jalan Allah melawan orang kafir. Syariat ini kelihatan berat karena harus mengorbankan harta benda, keluarga bahkan jiwa. Mungkin dengan jihad ini seorang wanita kehilangan suaminya dan seorang anak kehilangan ayahnya. Namun di balik itu semua ada hikmah berharga yaitu meninggikan kalimat Allah dimuka bumi dan Allah menyediakan pahala yang sangat besar bagi para mujahid fi sabilillah.
• Kalau tidak demikian, maka harus kita sadari bahwa apa yang dianggap berat itu sebenarnya bukan sebuah keberatan, namun karena jiwa manusia yang kotorlah yang menganggap itu berat. Bukankah kalau seseorang sedang sakit maka makanan yang sebenarnya tidak keras pun terasa keras, bukanlah kalau sedang sakit makanan yang sebenarnya manis pun terasa pahit.
Sebab-sebab keringanan
Kalau kita cermati tentang sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan keringanan syar’i adalah :
1. Safar
Safar adalah sepotong adzab, karena banyak kesulitan dan kerepotan saat dalam sebuah perjalanan jauh, oleh karena itu Allah memberikan beberapa keringanan dalam menjalankan sebuah syariat saat safar.
Diantaranya adalah mengqoshor dan menjama’ shalat, boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan namun harus mengganti pada bulan lainnya, bolehnya mengusap sepatu tiga hari tiga malam sedangkan kalau tidak safar hanya boleh sehari semalam, boleh tidak berjamaah juga tidak shalat jum’at dan lainnya.
2. Sakit
Keringanan yang didapatkan karena sakit misalnya bolehnya bertayamum sebagai ganti dari berwudlu, boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan namun menggantinya pada bulan lain, bolehnya shalat dengan duduk atau berbaring dan lainnya.
3. Terpaksa
Contoh keringanan karena sebab terpaksa adalah bolehnya mengucapkan kalimat kufur dengan syarat hatinya masih teguh diatas keimanan, sebagaiman kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa kufur dengan siksaaan yang sangat berat, maka beliau mengucapkan kalimat kufur namun hatinya tetap teguh diatas keimanannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. (QS. An Nahl : 106)
4. Lupa
Orang yang lupa makan dan minum siang hari bulan Ramadhan tidak batal puasanya, juga tidak berdosa orang yang lupa tidak shalat sampai keluar waktunya, hanya saja kalau dia ingat maka wajib melaksanakannya saat itu juga.
Sebagaimana sabda Rasulullah :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Dari Anas berkata : Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang lupa shalat atau ketiduran belum mengerjakannya, maka kaffarohnya adalah mengerjakannya saat dia ingat.” (HR. Bukhori 597, Muslim 684)
5. Bodoh
Terkadang bodoh adalah sebuah sebab seseorang mendapatkan keringanan, misalnya orang yang baru masuk islam dan belum mengetahui bahwa khomer itu hukumnya haram, lalu dia meminumnya maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada hukuman akhirat.
6. Sulit menghindarinya
Dalam keadaan-keadaan tertentu, manusia sulit sekali menghindari sesuatu yang pada dasarnya adalah tidak boleh, maka hal itu bisa diberi keringanan karena kesulitan tersebut.
Misalnya : Tidak dinajiskanya kucing karena binatang ini sangat sering bergaul dengan manusia, keluar masuk rumah dan lainnya, maka seandainya dinajiskan maka akan sangat memberatkan.
Oleh Karena itu tatkala Rasulullah ditanya tentang najisnya kucing beliau menjawab :
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Sesungguhnya dia tidak najis, karena dia binatang yang selalu keliling pada kalian.” (Shohih HR. Abu Dawud : 75, Nasa’i 1/55, Tirmidzi : 92, Ibnu Majah 367)
7. Kekurangan
Ada beberapa kekurangan yang terdapat pada seseorang, baik kekurangan dalam fisik, akal ataupun lainnya, maka semua kekurangan tersebut bisa menjadi sebab mendapatkan keringanan.
Misalnya orang yang kurang fisiknya maka tidak wajib jihad, contohnya orang yang buta atau pincang yang parah. Adapun kekurangan umur atau belum baligh dan kurang akal, maka orang yang belum baligh dan kurang waras tidak diberi kewajiban syar’i.
Macam-macam keringanan
Kalau kita cermati beberapa misal di atas, maka akan dapat kita simpulkan bahwa keringanan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya meliputi beberapa macam :
• Digugurkan kewajiban
Misalnya orang yang haidh dan nifas tidak boleh shalat dan tidak wajib mengqahadha’
• Dikurangi dari aslinya
Misalnya shalat dhuhur yang asalnya empat rokaat, namun bagi musafir hanya dikerjakan dengan dua rokaat
• Diganti dengan yang lain
Semacam mengganti wudlu dan mandi junub dengan bertayammum saja kalau terdapat sebab yang membolehkan tayammum
• Memajukan dari waktu yang sebenarnya
Misalnya orang boleh untuk mengerjakan waktu ashar diwaktu dhuhur, karena sedang bepergian atau sedang ada keperluan yang mendesak. Juga bolehnya membayar zakat fithri maupun zakat mal sebelum waktu wajibnya.
• Mengakhirkan dari waktu yang sebenarnya
Misalnya bolehnya mengerjakan shoat dhuhur di waktu ashar serta waktu maghrib di waktu isya’ saat sedang safar atau ada sebuah keperluan yang mendesak
• Saat terpaksa yang haram jadi boleh
Orang yang sangat kelaparan, maka dia boleh memakan bangkai bahkan terkadang jadi wajib memakan bangkai tersebut kalau seandainya tidak memakanya akan mengakibatkannya meninggal dunia.
• Merubah
Seperti perubahan tatacara shalat saat berada di kancah medan pertempuran, yang disebut dengan shalat khouf.
(Lihat Al Wajiz hal : 227-229)
Contoh Aplikasi Kaidah
Banyak sekali cabang-cabang fiqh yang tercakup dalam kaidah ini, di antaranya :
• Pada dasarnya bangkai adalah haram, namun kalau seseorang dalam keadaan terpaksa maka diperbolehkan baginya makan bangkai tersebut bahkan mungkin menjadi wajib.
• Aruransi konvensional itu hukumnya haram, karena banyak mengandung unsur kezhaliman, riba serta lainnya. Namun pada zaman sekarang ini sistem asuransi ini hampir ada di semua sektor kehidupan, misalnya kalau masuk terminal harus membayar peron yang di situ mesti ada sebagian uangnya untuk PT Asuransi dan lainnya, maka diperbolehkan membayar uang peron tersebut meskipun mengandung unsur asuransi karena akan sangat sulit sekali menghindarinya.
• Kalau sulit mendapatkan sesuatu dengan cara yang meyakinkan, maka diperbolehkan menggunakan zhan (persangkaan) yang kuat meskpun tidak sampai yakin. Dan ini banyak kita dapatkan dalam fiqh islami. Misalkan Orang yang tidak mengetahui arah kibat lalu sudah berusaha mencarinya namun tidak mendapatkanya, maka dia bisa menggunakan berbagai macam qorinah untuk menguatkan arah kiblat lalu shalat mengarah kesana meskipun dia sendiri belum yakin bahwa itulah arah kiblat.
• Pada dasanya tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui bendanya secara langsung, namun karena banyak keperluan akan hal ini, maka diperbolehkan jual beli pesanan, dengan cara pembeli barang bayar kontan duluan, namun barangnya akan di terima belakangan dengan menyebutkan kretria tertentu, begitu juga diperbolehkannya jual beli biji-bijian yang masih dalam tanah serta menjual buah yang masih dalam pohonnya karena keperluan yang mendesak akan hal itu.
• Pada dasanya benda najis harus dihilangkan bendanya, namun karena kesulitan maka diperbolehkan untuk mensucikan benda najis yang menempel di sandal dan pakaian wanita yang dipakai berjalan pada jalanan yang najis, hanya sekedar dipakai berjalan dijalan setelahnya yang suci.

Cabang-Cabang Kaidah

1. Kaidah :
إذا ضاق الأمر اتسع
Apabila sesuatu itu sempit, maka hukumnya menjadi luas. (Imam Syafi’i)
Contoh : Sebuah bejana air yang terbuat dari tanah liat bercampur kotooran boleh dipakai untuk berwudhu.

2. Kaidah :
إذا اتسع الأمر ضاق
Apabila sesuatu itu luas, maka hukumnya menjadi sempit.
Contoh : Orang dalam keadaan biasa (longgar/lapang), shalatnya harus dalam waktu dan dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s