الْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

Penulis: Ustadz H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
Materi Kuliah: Qowa’id Fiqhiyyah

الْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

SESUATU YANG YAKIN TIDAK BISA HILANG DENGAN KERAGUAN

Pengertian Kaidah
اليَقِيْنُ secara bahasa adalah kemantapan hati atas sesuatu. Terambil dari kata bahasa Arab : يَقَنَ الْمَاءُ فِي الْحَوْضِ : yang artinya air itu tenang di dalam kolam
Adapun الشَكُّ secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya adalah apabila terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya, maka itulah الشَكُّ . Namun apabila bisa menguatkan salah satunya maka hal itu tidak dinamakan الشَكُّ

Hal ini dikarenakan bahwa sesuatu yang diketahui oleh seseorang itu bertingkat tingkat, yaitu:
• اليَقِيْنُ: keyakinan hati yang berdasarkan pada dalil
• الظَنُّ : persangkaan kuat
Contoh : apabila seseorang sedikit meragukan sesuatu apakah halal ataukah haram, namun persangkaan yang kuat dalam hatinya berdasarkan dalil yang dia ketahui bahwa hal itu haram, maka persangkaan kuat inilah yang dinamakan dengan الظَنُّ
• الشَكُّ: Keraguan tanpa bisa memilih dan tidak bisa menguatkan salah satu diantara keduanya
• الوَهْمُ : Persangkaan lemah
Contoh : Pada contoh الظَنُّ di atas, kemungkinan yang lemah, yaitu halalnya perbuatan tersebut, itulah yang dinamakan dengan الوَهْمُ
Adapun kalau seseorang tidak mengetahui sama sekali , maka itulah kebodohan (الجَهْل) dan ia terbagi menjadi dua macam :
• الجَهْلُ الْبَسِيْطُ (Kebodohan yang ringan ) yaitu orang yang tidak tahu namun dia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui
• الجَهْلُ الْمُرَكَّبُ (kebodohan berat) yaitu orang yang yang tidak tahu tapi mengaku mengetahui.
(Lihat Syarah Al Ushul min Ilmil Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin hal : 69)
Jadi makna kaidah diatas adalah :
Bahwa sebuah perkara yang diyakini sudah terjadi, tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga, dalam artian tidak bisa dihilangkan hanya sekedar dengan sebuah keraguan, demikian juga sesuatu yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi bahwa itu telah terjadi kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga. (Lihat Al Madkhol Al Fiqhi oleh Mushthofa Az Zarqo hal : 961, Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqhil Kulliyah oleh DR. Al Burnu hal : 169)
Sumber Pengambilan Kaidah
Kaedah ini terambil dari pemahaman banyak ayat dan hadits Rasulullah saw, di antaranya :
Firman Alloh Ta’ala :
وَمَايَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus : 36)
Hadits Rasulullah saw :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Dari Abu Huroiroh berkata : Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim : 362)
Imam Nawawi berkata:
“Hadits ini adalah salah satu pokok Islam dan sebuah kaedah yang besar dalam masalah fiqh, yaitu bahwa segala sesuatu itu dihukumi bahwa dia tetap pada hukum asalnya sehingga diyakini ada yang bertentangan dengannya, dan tidak membahayakan baginya sebuah keraguan yang muncul.” (Lihat Syarah Shohih Muslim 4/39)
عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَنْفَتِلْ أَوْ لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Dari Abbad bin Tamim dari pamannya berkata : “Bahwasannya ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah saw bahwa dia merasakan seakan-akan kentut dalam shalatnya. Maka Rasulullah saw bersabda : “Janganlah dia batalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhori : 137, Muslim : 361)
Imam Al Khothobi berkata:
“Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin.” (Lihat Ma’alimus Sunan 1/129)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rakaatkah dia mengerjakan shalat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah yang dia yakini kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau ternyata dia itu shalat lima rakaat maka kedua sujud itu bisa menggenapkan shalatnya, dan jikalau ternyata shalatnya sudah sempurna maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.” (HR. Muslim : 571)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلَاثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian lupa dalam shalatnya, lalu dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat satu atau dua rakaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat satu rakaat, juga apabila dia tidak yakin apakah sudah shalat dua ataukah tiga rakaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat dua rakaat, begitu pula apabila dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat tiga ataukah empat rakaat maka anggaplah bahwa dia baru shalat tiga rakaat, lalu setelah itu sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. Tirmidzi 398, Ibnu Majah 1209, Ahmad 1659 dengan sanad shohih)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ
Dari Abdulloh bin Umar berkata : “ Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian puasa sehingga kalian melihat hilal Romadhon, juga janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal Syawal dan jika hilal itu tertutupi mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan tersebut.” (HR. Nasa’i 2122 dan lainnya dengan sanad shohih)
Tatkala mengomentari hadits yang mirip dengan ini, Imam Ibnu Abdil Bar dalam At Tamhid berkata:
“Bahwa sesuatu yang yakin itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan, namun hanya bisa dihilangkan dengan keyakinan juga, karena Rasulullah saw memerintahkan manusia agar tidak meninggalkan sebuah keyakinan tentang keberadan mereka masih dalam bulan Sya’ban kecuali dengan sebuah keyakinan yang ditandai dengan melihat hilal Romadhon atau menyempurnakan bilangan bulan tiga puluh hari.”
Kedudukan Kaedah
Kaedah ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam islam, baik yang berhubungan dengan fiqh maupun lainnya, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa kaedah ini mencakup tiga perempat masalah fiqh atau mungkin malah lebih. (Lihat Al Asybah wan Nadlo’ir oleh Imam As Suyuthi hal : 51)
Imam Nawawi berkata :
“Kaedah ini adalah adalah sebuah kaedah pokok yang mencakup semua permasalahan,dan tidak keluar darinya kecuali beberapa masalah saja.” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 1/205)
Imam Ibnu Abdil Bar berkata :
“Para ulama’ telah sepakat bahwa bahwa orang yang sudah hadats lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudhu kembali ataukah belum ? bahwasannya keraguannya ini tidak berfungsi sama sekali, dan dia wajib untuk berwudhu kembali. Hal ini menunjukkan bahwa keraguan itu tidak digunakan menurut para ulama’ dan yang dijadikan patokan adalah sesuatu yang meyakinkan. Ini adalah sebuah dasar pokok dalam permasalahan fiqh.” (Lihat At Tamhid 5/18, 25, 27)
Imam Al Qorrofi berkata:
“Ini adalah sebuah kaedah yang disepakati oleh para ulama’, bahwasanya sesuatu yang meragukan dianggap seperti tidak ada.” (Al Furuq 1/111)
Imam Ibnu Najjar berkata :
“Kaedah ini tidak hanya berlaku dalam masalah fiqh saja, bahkan bisa dijadikan dalil bahwasanya semua perkara yang baru itu pada dasarnya dihukumi tidak ada sampai diyakini keberadaannya, sehingga bisa kita katakan bahwa pada dasarnya orang itu tidak diberi beban syar’i sehingga datang dalil yang berbeda dengan pokok ini, pada dasaranya sebuah perkataan itu dibawa pada hakekat maknanya, pada dasarnya sebuah perintah itu menunjukan pada sebuah kewajiban dan sebuah larangan itu menunjukan pada keharaman serta masalah lainnya.” (Lihat Syarah al Kaukab al Munir 4/443)
Contoh Aplikasi Kaedah
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kaedah ini mencakup hampir semua permasalahan syar’i, maka di sini cukup disebutkan sebagainnya saja sebagai sebuah contoh :
• Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudhu, lalu ragu-ragu apakah dia sudah batal ataukah belum, maka dia tidak wajib berwudhu lagi, karena yang yakin adalah sudah berwudhu, sedang batalnya masih diragukan.
• Dan begitu pula sebailknya, apabila orang yakin bahwa dia telah batal wudhunya, namun dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudhu kembali ataukah belum ? maka dia wajib wudhu lagi karena yang yakin sekarang adalah batalnya wudhu.
• Apabila ada orang yang mencuci najis akibat jilatan anjing, kemudian ia ragu apakah ia telah mencuci dengan debu ataukah belum, dalam hal ini ditetapkan hukum belum mencuci dengan debu karena yang yakin adalah adanya najis.
• Barang siapa yang berjalan di perkampungan lalu kejatuhan air dari rumah seseorang dari lantai dua, yang mana ada kemungkinan bahwa itu adalah air najis, maka dia tidak wajib mencucinya karena pada dasarnya air itu suci, dan asal hukum ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan, kecuali kalau didapati sebuah tanda-tanda kuat bahwa itu adalah air najis, misalkan bau pesing dan lainnya.
• Barang siapa yang berjalan di sebuah jalanan yang becek atau berlumpur yang ada kemungkinan bahwa air itu najis, maka tidak wajib mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis.
• Barang siapa yang telah sah nikahnya, lalu dia ragu-ragu apakah sudah terjadi talak ataukah belum, maka nikahnya tetap sah dan tidak perlu digubris terjadinya talak yang masih diragukan.
• Orang yang pergi meninggakan kampung halaman dalam keadaan sehat namun bertahun-tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dia tetap dihukumi sebagai orang hidup yang dengannya tidak boleh diwarisi hartanya, sehingga datang berita yang meyakinkan bahwa dia telah meninggal dunia atau dihukumi oleh pihak pengadilan bahwa dia telah meninggal dunia.
• Seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, maka dia tetap dihukumi sebagai seorang istri, yang atas dasar ini maka dia tidak boleh menikah lagi, kecuali kalau datang berita meyakinkan bahwa suaminya telah meninggal dunia atau telah menceraikannya atau dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan lalu pengadilan memutuskan untuk memisahkan hubungan pernikahannya dengan suaminya yang hilang beritanya.
• Orang yang yakin bahwa dirinya telah berhutang, lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah melunasinya ataukah belum, maka dia wajib melunasinya lagi kecuali kalau pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah melunasi hutang atau ada bukti kuat bahwa sudah lunas, misalkan ada dua orang saksi yang menyatakan bahwa hutangnya telah lunas.
Cabang-Cabang Kaidah

1. الأَصْلُ بَقَاءُ مَاكَانَ عَلَى مَاكَانَ /Yang menjadi asal sesuatu ditetapkan pada asalnya semula.

Penjelasan :

Apabila seseorang menjumpai keraguan mengenai hukum suatu perkara, maka diberlakukan hukum yang telah ada atau yang ditetapkan pada masa yang telah lalu, sampai ada hukum yang lain yang merubahnya, karena apa yang telah ada lebih dapat diyakini.

Contoh :

Berbuka puasa menjelang maghrib tanpa penelitian, kemudian timbul keraguan bahwa kemungkinan matahari belum terbenam, maka puasanya dihukumi batal, sebab menurut asalnya adalah berlakunya waktu sebelum maghrib.

2. الْأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ /Yang menjadi asal adalah bebas dari tanggung jawab.

Penjelasan :

Pada dasarnya manusia adalah bebas, tidak mempunyai tanggung jawab terhadap hak-hak orang lain. Adanya beban tanggung jawab adalah karena adanya hak-hak yang telah dimiliki atau perbuatan-perbuatan yang telah dia lakukan.

Contoh :

Seorang terdakwa menolak sumpah, tidak bisa dikenai hukuma, sebab menurut hukum yang asal ia bebas dari tanggung jawab, justeru pendakwa yang harus angkat sumpah.

3. مَنْ شَكَّ هَلْ فَعَلَ شَيْئًا أَوَّلًا ؟ فَالْأَصْلُ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ / Siapa yang merasa ragu, apakah ia telah mengerjakan sesuatu atau belum, maka yang menjadi asal adalah belum mengerjakan sesuatu.

Termasuk qaidah ini, 2 qaidah lain :

Pertama : مَنْ تَيَقَّنَ الْفِعْلَ وَشَكَّ فِي الْقَلِيلِ أَوْ الْكَثِيرِ حُمِلَ عَلَى الْقَلِيلِ لِأَنَّهُ الْمُتَيَقَّنُ /Siapa yang yakin telah mengerjakan (sesuatu), tetapi merasa ragu, apakah pekerjaannya itu sedikit atau banyak, maka pekerjaannya itu dibawa pada yang sedikit, karena itu yang meyakinkan.

Kedua : أَنَّ مَا ثَبَتَ بِيَقِينٍ لَا يَرْتَفِعُ إلَّا بِيَقِينٍ/Sesungguhnya apa yang tetapnya berdasarkan sesuatu yang meyakinkan, tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan pula.

Contoh :
• Di tengah-tengah shalat, seseorang ragu apakah ia telah melakukan satu rukun shalat atau tidak, ia wajib mengulangi shalatnya; karena yang menjadi asal ia belum melakukannya.
• Seseorang ragu-ragu, apakah shalatnya sudah 3 rakaat atau 4 rakaat, maka berarti ia sudah shalat 3 rakaat; karena 3 rakaat itu yang meyakinkan.

4. الْأَصْلُ الْعَدَمُ / Yang menjadi asal adalah ketiadaan perbuatan.

Contoh :

Usman berhutang kepada Umar dan mengaku telah membayar, sedangkan Umar mengatakan bahwa utang itu belum dibayar. Dalam hal ini keingkaran Umar yang dibenarkan, sebab menurut asalnya memang belum adanya pembayaran.

5.الْأَصْلُ فِي كُلِّ حَادِثٍ تَقْدِيرُهُ بِأَقْرَبِ زَمَنٍ / Yang menjadi asal dalam setiap kejadian adalah memperkirakannya dg waktu yang paling dekat dengannya.

Contoh :

Seorang berwudhu dari air sumur, kemudian dia shalat, setelah shalat dia melihat bangkai tikus di dalam sumur itu. Dia tidak wajib mengqadha (mengulang) shalatnya, kecuali dia yakin bahwa dia berwudhu dengan air yang najis.

6. الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيمِ / Yang menjadi asal dalam setiap sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Yang menjadi dasar qaidah ini adalah :

– Firman Allah :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah : 29)

– Hadits :

مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ ، فَاقْبَلُوا مِنْ اللَّهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا
Apa yang telah dihalalkan oleh Allah adalah halal, dan apa yang telah diharamkan Allah adalah haram, serta apa yang didiamkan oleh Allah adalah dimaafkan, maka terimalah kemaafan-Nya itu; karena sesungguhnya Allah tidak akan lupa akan sesuatu. (HR. al-Bazzar dan ath-Thabraniy dari Abu Darda’)

Penjelasan :

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang tidak ada ketegasan dalil tentang halal haramnya, maka harus dikembalikan kepada asalnya yaitu boleh.

Contoh :

Binatang yang sulit dipastikan keharamannya karena tidak adanya tanda-tanda yang bisa dikategorikan haram, adalah boleh/halal.

7. الْأَصْلُ فِي الْأَبْضَاعِ التَّحْرِيمُ / Yang menjadi asal dalam hubungan sex adalah haram.

Dasar kaidah ini :
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun : 5-7)

Penjelasan :

Hukum hubungan sex pada dasarnya adalah haram sampai ada sebab-sebab yang meyakinkan tanpa ada keragu-raguan yang menghalalkannya, yaitu dg akad nikah atau milk al-yamin.
Juga termasuk haram apabila dalam hubungan seorang laki-laki dg seorang wanita terdapat dua kemungkinan yang berlawanan, yaitu halal dan haram.

Contoh :

Apabila dikatakan pada seorang laki-laki bahwa di kampung A terdapat seorang atau beberapa orang wanita yang tidak boleh dikawini, tetapi siapa wanita itu tidak diketahui secara jelas, maka berdasarkan kaidah ini, laki-laki tersebut tidak boleh menjadikan isteri seseorang di kampung itu sebelum jelas wanita mana yang tidak boleh dikawini.

8. الْأَصْلُ فِي الْكَلَامِ الْحَقِيقَةُ / Yang menjadi asal dalam perkataan adalah yang hakikat/sebenarnya (bukan yang kiasan)

Penjelasan :

Bila suatu ucapan bisa diartikan secara hakiki dan bisa jadi pula diartikan secara majazi (kiasan) maka berdasarkan kaidah ini, arti hakiki yang harus dipegang.

Contoh :
Seorang mengatakan bahwa rumahnya diberikan kepada Usman, maka arti yang hakiki memberikan ini adalah memindahkan hak memiliki. Jika orang itu mengingkari dan mengatakan bahwa rumah itu hanya boleh ditempati saja, maka pengingkaran itu tidak dibenarkan, sebab yang menjadi asal dalam perkataan adalah arti hakiki.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s