المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

Penulis: Ustadz H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
Materi Kuliah: Qawa’id Fiqhiyyah

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

KESULITAN MEMBAWA KEMUDAHAN

Makna Kaidah
المَشَقَّةُ berarti kepayahan, kesulitan dan kerepotan.
التَّيْسِيْرَ artinya kemudahan dan keringanan.
Dari sini maka secara bahasa kaidah ini mempunyai pengertian bahwa sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan.
Adapun secara istilah para ulama’, maka kaidah ini berarti :
Hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan kesulitan dan kepayahan serta kerumitan bagi seorang mukallaf (orang yang diberi beban syar’i) maka syariat islam meringankanya agar bisa dilakukan dengan mudah dan ringan. (Lihat Al Wajiz Fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu hal : 218)
Sumber Pengambilan Kaidah
Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan pada kaidah ini, di antaranya :
Dalil Al Qur’an Al Karim
• Allah berfirman :
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak mengiginkan bagi kalian kesulitan.”(QS. Al Baqoroh : 185)

• Allah berfirman :
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seorang jiwa kecuali sesuai kemampuannya.” (QS. Al Baqoroh : 286)
• Allah juga berfirman :
رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al Baqoroh : 286)
• Allah Ta’ala berfirman :
يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنكُمْ
“Allah menginginkan untuk meringankan atas kalian.” (QS. An Nisa’ : 28)
• Firman Allah :
مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ
“Allah tidak hendak menyulitkan kalian.” (QS. Al Ma’idah : 6)
• Allah berfirman :
وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj : 78)
Dalil as-Sunnah :
• Hadits Abu Umamah
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
Dari Abu Umamah berkata : Rasulullah bersabda : “Saya tidak diutus dengan membawa agama Yahudi dan Nashroni namun saya diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.”(HR. Ahmad 5/266 (21788)
• Hadits Abu Huroiroh :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
Dari Abu Huroiroh berkata : “Ada seorang Arab Badui yang kencing dimasjid, lalu para sahabat memarahinya, maka Rasulullah bersabda : “Biarkan dia, tuangkan saja pada kencingnya air satu timba, sesunguhnya kalian diutus untuk membawa kemudahan dan bukan diutus untuk menyulitkan.”(HR. Bukhori 220, Muslim)
• Hadits Aisyah :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
Dari Aisyah berkata : “Tidaklah Rasulullah diberi pilihan untuk memilih antara dua perkara kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selagi hal itu bukan perbuatan dosa. Namun jika itu perbuatan dosa maka Rasulullah adalah orang yang paling jauh darinya” (HR. Bukhori 3560 Muslim 2327)
Semua ayat dan hadits ini memberikan sebuah faedah bahwa agama Islam tidak datang untuk membawa kesulitan akan tetapi datang dengan membawa kemudahan.
Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata :
“Seluruh syariat islam ini lurus dan mudah, Lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan. Lihatlah !!! shalat lima waktu yang wajib dikerjakan dalam satu hari satu malam tidaklah mengambil waktu kecuali hanya sedikit sekali, begitu pula zakat, itu hanya sebagian kecil dari seluruh harta dan itupun harta yang berkembang bukan harta yang tidak berkembang, serta setiap tahun hanya wajib sekali. Begitu juga dengan puasa cuma satu bulan dalam satu tahun. Adapun masalah haji, maka itu hanya wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu melaksanakanya. Adapun kewajiban-kewajiban lainnya, maka hanyalah dilakukan kalau ada sebabnya, semuanya amatlah mudah. Allah juga mensyariatkan banyak sebab yang bisa membantu seseorang agar giat dalam menjalankan semua ibadah tersebut.” (Al Qowa’id wal Ushul Jami’ah oleh Syaikh As Sa’di hal : 20)
Kalau anda cermati maka anda akan mengetahui bahwa tidak ada yang berat dan membawa masyaqqah dalam syariat islam, sebagaimana firman Allah di atas, namun perlu diketahui bahwa sesuatu yang berat dalam syariat itu ada tiga macam :
Macam-macam masyaqqah :
• Masyaqqah yang di luar kemapuan manusia
Maka ini tidak mungkin terdapat dalam syariat islam.
Misalkan : berpuasa sepuluh hari berturut turut siang dan malam, berjalan di atas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungkin disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
• Masyaqqah yang biasa.
Masyaqqah model ini mesti ada dalam semua beban syar’i, karena semua perintah dan larangan pasti akan membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqah model ini terdapat dalam syariat islam dan bukan yang dimaksud dengan ayat dan hadits di atas.
Misal :
Puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, ini pasti ada masyaqahnya akan tetapi dalam kadar yang wajar.
Shalat shubuh, ini juga ada sedikit masyaqqah, karena harus bangun dan berwudlu disaat mungkin masih ngantuk atau udara dingin. Namun semua ini masyaqoh dalam batas yang wajar
Begitu juga mengeluarkan zakat dari sebagian harta dan lainnya.
• Masyaqqah yang sangat amat berat meskipun sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia.
Masyaqqah yang ini juga tidak terdapat dalam syariat islam, karena karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.
Misalnya : Shalat lima puluh kali sehari semalam, seandainya Allah memerintahkannya kepada manusia maka hal ini bisa dilakukan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqah yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Allah tidak mensyariatkan hal ini pada ummat islam.
Masyaqqah yang terdapat dalam syariat islam yang sebenarnya adalah masyaqoh yang wajar, namun suatu ketika menjadi sulit dan berat karena ada sebab tertentu, maka Allah memberikan keringanan dan keluasan kepada hamba-Nya. Misalkan puasa pada siang hari bulan Ramadhan yang asalnya adalah sebuah masyaqqah yang ringan, namun saat sakit atau safar akan menjadi berat. Untuk itu Allah memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa saat itu dan wajib menggantinya pada saat lain, sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqoroh : 185)
Begitu pula harus difahami, bahwa jika Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan sesuatu yang kelihatannya sangat berat, maka harus difahami dengan dua kemungkinan :
• Kita harus meyakini bahwa di balik syariat yang berat tersebut ada hikmah dan tujuan yang jauh lebih besar.
Misalnya : Syariat jihad berperang di jalan Allah melawan orang kafir. Syariat ini kelihatan berat karena harus mengorbankan harta benda, keluarga bahkan jiwa. Mungkin dengan jihad ini seorang wanita kehilangan suaminya dan seorang anak kehilangan ayahnya. Namun di balik itu semua ada hikmah berharga yaitu meninggikan kalimat Allah dimuka bumi dan Allah menyediakan pahala yang sangat besar bagi para mujahid fi sabilillah.
• Kalau tidak demikian, maka harus kita sadari bahwa apa yang dianggap berat itu sebenarnya bukan sebuah keberatan, namun karena jiwa manusia yang kotorlah yang menganggap itu berat. Bukankah kalau seseorang sedang sakit maka makanan yang sebenarnya tidak keras pun terasa keras, bukanlah kalau sedang sakit makanan yang sebenarnya manis pun terasa pahit.
Sebab-sebab keringanan
Kalau kita cermati tentang sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan keringanan syar’i adalah :
1. Safar
Safar adalah sepotong adzab, karena banyak kesulitan dan kerepotan saat dalam sebuah perjalanan jauh, oleh karena itu Allah memberikan beberapa keringanan dalam menjalankan sebuah syariat saat safar.
Diantaranya adalah mengqoshor dan menjama’ shalat, boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan namun harus mengganti pada bulan lainnya, bolehnya mengusap sepatu tiga hari tiga malam sedangkan kalau tidak safar hanya boleh sehari semalam, boleh tidak berjamaah juga tidak shalat jum’at dan lainnya.
2. Sakit
Keringanan yang didapatkan karena sakit misalnya bolehnya bertayamum sebagai ganti dari berwudlu, boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan namun menggantinya pada bulan lain, bolehnya shalat dengan duduk atau berbaring dan lainnya.
3. Terpaksa
Contoh keringanan karena sebab terpaksa adalah bolehnya mengucapkan kalimat kufur dengan syarat hatinya masih teguh diatas keimanan, sebagaiman kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa kufur dengan siksaaan yang sangat berat, maka beliau mengucapkan kalimat kufur namun hatinya tetap teguh diatas keimanannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. (QS. An Nahl : 106)
4. Lupa
Orang yang lupa makan dan minum siang hari bulan Ramadhan tidak batal puasanya, juga tidak berdosa orang yang lupa tidak shalat sampai keluar waktunya, hanya saja kalau dia ingat maka wajib melaksanakannya saat itu juga.
Sebagaimana sabda Rasulullah :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Dari Anas berkata : Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang lupa shalat atau ketiduran belum mengerjakannya, maka kaffarohnya adalah mengerjakannya saat dia ingat.” (HR. Bukhori 597, Muslim 684)
5. Bodoh
Terkadang bodoh adalah sebuah sebab seseorang mendapatkan keringanan, misalnya orang yang baru masuk islam dan belum mengetahui bahwa khomer itu hukumnya haram, lalu dia meminumnya maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada hukuman akhirat.
6. Sulit menghindarinya
Dalam keadaan-keadaan tertentu, manusia sulit sekali menghindari sesuatu yang pada dasarnya adalah tidak boleh, maka hal itu bisa diberi keringanan karena kesulitan tersebut.
Misalnya : Tidak dinajiskanya kucing karena binatang ini sangat sering bergaul dengan manusia, keluar masuk rumah dan lainnya, maka seandainya dinajiskan maka akan sangat memberatkan.
Oleh Karena itu tatkala Rasulullah ditanya tentang najisnya kucing beliau menjawab :
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Sesungguhnya dia tidak najis, karena dia binatang yang selalu keliling pada kalian.” (Shohih HR. Abu Dawud : 75, Nasa’i 1/55, Tirmidzi : 92, Ibnu Majah 367)
7. Kekurangan
Ada beberapa kekurangan yang terdapat pada seseorang, baik kekurangan dalam fisik, akal ataupun lainnya, maka semua kekurangan tersebut bisa menjadi sebab mendapatkan keringanan.
Misalnya orang yang kurang fisiknya maka tidak wajib jihad, contohnya orang yang buta atau pincang yang parah. Adapun kekurangan umur atau belum baligh dan kurang akal, maka orang yang belum baligh dan kurang waras tidak diberi kewajiban syar’i.
Macam-macam keringanan
Kalau kita cermati beberapa misal di atas, maka akan dapat kita simpulkan bahwa keringanan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya meliputi beberapa macam :
• Digugurkan kewajiban
Misalnya orang yang haidh dan nifas tidak boleh shalat dan tidak wajib mengqahadha’
• Dikurangi dari aslinya
Misalnya shalat dhuhur yang asalnya empat rokaat, namun bagi musafir hanya dikerjakan dengan dua rokaat
• Diganti dengan yang lain
Semacam mengganti wudlu dan mandi junub dengan bertayammum saja kalau terdapat sebab yang membolehkan tayammum
• Memajukan dari waktu yang sebenarnya
Misalnya orang boleh untuk mengerjakan waktu ashar diwaktu dhuhur, karena sedang bepergian atau sedang ada keperluan yang mendesak. Juga bolehnya membayar zakat fithri maupun zakat mal sebelum waktu wajibnya.
• Mengakhirkan dari waktu yang sebenarnya
Misalnya bolehnya mengerjakan shoat dhuhur di waktu ashar serta waktu maghrib di waktu isya’ saat sedang safar atau ada sebuah keperluan yang mendesak
• Saat terpaksa yang haram jadi boleh
Orang yang sangat kelaparan, maka dia boleh memakan bangkai bahkan terkadang jadi wajib memakan bangkai tersebut kalau seandainya tidak memakanya akan mengakibatkannya meninggal dunia.
• Merubah
Seperti perubahan tatacara shalat saat berada di kancah medan pertempuran, yang disebut dengan shalat khouf.
(Lihat Al Wajiz hal : 227-229)
Contoh Aplikasi Kaidah
Banyak sekali cabang-cabang fiqh yang tercakup dalam kaidah ini, di antaranya :
• Pada dasarnya bangkai adalah haram, namun kalau seseorang dalam keadaan terpaksa maka diperbolehkan baginya makan bangkai tersebut bahkan mungkin menjadi wajib.
• Aruransi konvensional itu hukumnya haram, karena banyak mengandung unsur kezhaliman, riba serta lainnya. Namun pada zaman sekarang ini sistem asuransi ini hampir ada di semua sektor kehidupan, misalnya kalau masuk terminal harus membayar peron yang di situ mesti ada sebagian uangnya untuk PT Asuransi dan lainnya, maka diperbolehkan membayar uang peron tersebut meskipun mengandung unsur asuransi karena akan sangat sulit sekali menghindarinya.
• Kalau sulit mendapatkan sesuatu dengan cara yang meyakinkan, maka diperbolehkan menggunakan zhan (persangkaan) yang kuat meskpun tidak sampai yakin. Dan ini banyak kita dapatkan dalam fiqh islami. Misalkan Orang yang tidak mengetahui arah kibat lalu sudah berusaha mencarinya namun tidak mendapatkanya, maka dia bisa menggunakan berbagai macam qorinah untuk menguatkan arah kiblat lalu shalat mengarah kesana meskipun dia sendiri belum yakin bahwa itulah arah kiblat.
• Pada dasanya tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui bendanya secara langsung, namun karena banyak keperluan akan hal ini, maka diperbolehkan jual beli pesanan, dengan cara pembeli barang bayar kontan duluan, namun barangnya akan di terima belakangan dengan menyebutkan kretria tertentu, begitu juga diperbolehkannya jual beli biji-bijian yang masih dalam tanah serta menjual buah yang masih dalam pohonnya karena keperluan yang mendesak akan hal itu.
• Pada dasanya benda najis harus dihilangkan bendanya, namun karena kesulitan maka diperbolehkan untuk mensucikan benda najis yang menempel di sandal dan pakaian wanita yang dipakai berjalan pada jalanan yang najis, hanya sekedar dipakai berjalan dijalan setelahnya yang suci.

Cabang-Cabang Kaidah

1. Kaidah :
إذا ضاق الأمر اتسع
Apabila sesuatu itu sempit, maka hukumnya menjadi luas. (Imam Syafi’i)
Contoh : Sebuah bejana air yang terbuat dari tanah liat bercampur kotooran boleh dipakai untuk berwudhu.

2. Kaidah :
إذا اتسع الأمر ضاق
Apabila sesuatu itu luas, maka hukumnya menjadi sempit.
Contoh : Orang dalam keadaan biasa (longgar/lapang), shalatnya harus dalam waktu dan dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya.

Iklan

الْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

Penulis: Ustadz H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
Materi Kuliah: Qowa’id Fiqhiyyah

الْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

SESUATU YANG YAKIN TIDAK BISA HILANG DENGAN KERAGUAN

Pengertian Kaidah
اليَقِيْنُ secara bahasa adalah kemantapan hati atas sesuatu. Terambil dari kata bahasa Arab : يَقَنَ الْمَاءُ فِي الْحَوْضِ : yang artinya air itu tenang di dalam kolam
Adapun الشَكُّ secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya adalah apabila terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya, maka itulah الشَكُّ . Namun apabila bisa menguatkan salah satunya maka hal itu tidak dinamakan الشَكُّ

Hal ini dikarenakan bahwa sesuatu yang diketahui oleh seseorang itu bertingkat tingkat, yaitu:
• اليَقِيْنُ: keyakinan hati yang berdasarkan pada dalil
• الظَنُّ : persangkaan kuat
Contoh : apabila seseorang sedikit meragukan sesuatu apakah halal ataukah haram, namun persangkaan yang kuat dalam hatinya berdasarkan dalil yang dia ketahui bahwa hal itu haram, maka persangkaan kuat inilah yang dinamakan dengan الظَنُّ
• الشَكُّ: Keraguan tanpa bisa memilih dan tidak bisa menguatkan salah satu diantara keduanya
• الوَهْمُ : Persangkaan lemah
Contoh : Pada contoh الظَنُّ di atas, kemungkinan yang lemah, yaitu halalnya perbuatan tersebut, itulah yang dinamakan dengan الوَهْمُ
Adapun kalau seseorang tidak mengetahui sama sekali , maka itulah kebodohan (الجَهْل) dan ia terbagi menjadi dua macam :
• الجَهْلُ الْبَسِيْطُ (Kebodohan yang ringan ) yaitu orang yang tidak tahu namun dia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui
• الجَهْلُ الْمُرَكَّبُ (kebodohan berat) yaitu orang yang yang tidak tahu tapi mengaku mengetahui.
(Lihat Syarah Al Ushul min Ilmil Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin hal : 69)
Jadi makna kaidah diatas adalah :
Bahwa sebuah perkara yang diyakini sudah terjadi, tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga, dalam artian tidak bisa dihilangkan hanya sekedar dengan sebuah keraguan, demikian juga sesuatu yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi bahwa itu telah terjadi kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga. (Lihat Al Madkhol Al Fiqhi oleh Mushthofa Az Zarqo hal : 961, Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqhil Kulliyah oleh DR. Al Burnu hal : 169)
Sumber Pengambilan Kaidah
Kaedah ini terambil dari pemahaman banyak ayat dan hadits Rasulullah saw, di antaranya :
Firman Alloh Ta’ala :
وَمَايَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus : 36)
Hadits Rasulullah saw :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Dari Abu Huroiroh berkata : Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim : 362)
Imam Nawawi berkata:
“Hadits ini adalah salah satu pokok Islam dan sebuah kaedah yang besar dalam masalah fiqh, yaitu bahwa segala sesuatu itu dihukumi bahwa dia tetap pada hukum asalnya sehingga diyakini ada yang bertentangan dengannya, dan tidak membahayakan baginya sebuah keraguan yang muncul.” (Lihat Syarah Shohih Muslim 4/39)
عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَنْفَتِلْ أَوْ لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Dari Abbad bin Tamim dari pamannya berkata : “Bahwasannya ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah saw bahwa dia merasakan seakan-akan kentut dalam shalatnya. Maka Rasulullah saw bersabda : “Janganlah dia batalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhori : 137, Muslim : 361)
Imam Al Khothobi berkata:
“Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin.” (Lihat Ma’alimus Sunan 1/129)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rakaatkah dia mengerjakan shalat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah yang dia yakini kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau ternyata dia itu shalat lima rakaat maka kedua sujud itu bisa menggenapkan shalatnya, dan jikalau ternyata shalatnya sudah sempurna maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.” (HR. Muslim : 571)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلَاثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian lupa dalam shalatnya, lalu dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat satu atau dua rakaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat satu rakaat, juga apabila dia tidak yakin apakah sudah shalat dua ataukah tiga rakaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat dua rakaat, begitu pula apabila dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat tiga ataukah empat rakaat maka anggaplah bahwa dia baru shalat tiga rakaat, lalu setelah itu sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. Tirmidzi 398, Ibnu Majah 1209, Ahmad 1659 dengan sanad shohih)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ
Dari Abdulloh bin Umar berkata : “ Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian puasa sehingga kalian melihat hilal Romadhon, juga janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal Syawal dan jika hilal itu tertutupi mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan tersebut.” (HR. Nasa’i 2122 dan lainnya dengan sanad shohih)
Tatkala mengomentari hadits yang mirip dengan ini, Imam Ibnu Abdil Bar dalam At Tamhid berkata:
“Bahwa sesuatu yang yakin itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan, namun hanya bisa dihilangkan dengan keyakinan juga, karena Rasulullah saw memerintahkan manusia agar tidak meninggalkan sebuah keyakinan tentang keberadan mereka masih dalam bulan Sya’ban kecuali dengan sebuah keyakinan yang ditandai dengan melihat hilal Romadhon atau menyempurnakan bilangan bulan tiga puluh hari.”
Kedudukan Kaedah
Kaedah ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam islam, baik yang berhubungan dengan fiqh maupun lainnya, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa kaedah ini mencakup tiga perempat masalah fiqh atau mungkin malah lebih. (Lihat Al Asybah wan Nadlo’ir oleh Imam As Suyuthi hal : 51)
Imam Nawawi berkata :
“Kaedah ini adalah adalah sebuah kaedah pokok yang mencakup semua permasalahan,dan tidak keluar darinya kecuali beberapa masalah saja.” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 1/205)
Imam Ibnu Abdil Bar berkata :
“Para ulama’ telah sepakat bahwa bahwa orang yang sudah hadats lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudhu kembali ataukah belum ? bahwasannya keraguannya ini tidak berfungsi sama sekali, dan dia wajib untuk berwudhu kembali. Hal ini menunjukkan bahwa keraguan itu tidak digunakan menurut para ulama’ dan yang dijadikan patokan adalah sesuatu yang meyakinkan. Ini adalah sebuah dasar pokok dalam permasalahan fiqh.” (Lihat At Tamhid 5/18, 25, 27)
Imam Al Qorrofi berkata:
“Ini adalah sebuah kaedah yang disepakati oleh para ulama’, bahwasanya sesuatu yang meragukan dianggap seperti tidak ada.” (Al Furuq 1/111)
Imam Ibnu Najjar berkata :
“Kaedah ini tidak hanya berlaku dalam masalah fiqh saja, bahkan bisa dijadikan dalil bahwasanya semua perkara yang baru itu pada dasarnya dihukumi tidak ada sampai diyakini keberadaannya, sehingga bisa kita katakan bahwa pada dasarnya orang itu tidak diberi beban syar’i sehingga datang dalil yang berbeda dengan pokok ini, pada dasaranya sebuah perkataan itu dibawa pada hakekat maknanya, pada dasarnya sebuah perintah itu menunjukan pada sebuah kewajiban dan sebuah larangan itu menunjukan pada keharaman serta masalah lainnya.” (Lihat Syarah al Kaukab al Munir 4/443)
Contoh Aplikasi Kaedah
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kaedah ini mencakup hampir semua permasalahan syar’i, maka di sini cukup disebutkan sebagainnya saja sebagai sebuah contoh :
• Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudhu, lalu ragu-ragu apakah dia sudah batal ataukah belum, maka dia tidak wajib berwudhu lagi, karena yang yakin adalah sudah berwudhu, sedang batalnya masih diragukan.
• Dan begitu pula sebailknya, apabila orang yakin bahwa dia telah batal wudhunya, namun dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudhu kembali ataukah belum ? maka dia wajib wudhu lagi karena yang yakin sekarang adalah batalnya wudhu.
• Apabila ada orang yang mencuci najis akibat jilatan anjing, kemudian ia ragu apakah ia telah mencuci dengan debu ataukah belum, dalam hal ini ditetapkan hukum belum mencuci dengan debu karena yang yakin adalah adanya najis.
• Barang siapa yang berjalan di perkampungan lalu kejatuhan air dari rumah seseorang dari lantai dua, yang mana ada kemungkinan bahwa itu adalah air najis, maka dia tidak wajib mencucinya karena pada dasarnya air itu suci, dan asal hukum ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan, kecuali kalau didapati sebuah tanda-tanda kuat bahwa itu adalah air najis, misalkan bau pesing dan lainnya.
• Barang siapa yang berjalan di sebuah jalanan yang becek atau berlumpur yang ada kemungkinan bahwa air itu najis, maka tidak wajib mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis.
• Barang siapa yang telah sah nikahnya, lalu dia ragu-ragu apakah sudah terjadi talak ataukah belum, maka nikahnya tetap sah dan tidak perlu digubris terjadinya talak yang masih diragukan.
• Orang yang pergi meninggakan kampung halaman dalam keadaan sehat namun bertahun-tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dia tetap dihukumi sebagai orang hidup yang dengannya tidak boleh diwarisi hartanya, sehingga datang berita yang meyakinkan bahwa dia telah meninggal dunia atau dihukumi oleh pihak pengadilan bahwa dia telah meninggal dunia.
• Seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, maka dia tetap dihukumi sebagai seorang istri, yang atas dasar ini maka dia tidak boleh menikah lagi, kecuali kalau datang berita meyakinkan bahwa suaminya telah meninggal dunia atau telah menceraikannya atau dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan lalu pengadilan memutuskan untuk memisahkan hubungan pernikahannya dengan suaminya yang hilang beritanya.
• Orang yang yakin bahwa dirinya telah berhutang, lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah melunasinya ataukah belum, maka dia wajib melunasinya lagi kecuali kalau pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah melunasi hutang atau ada bukti kuat bahwa sudah lunas, misalkan ada dua orang saksi yang menyatakan bahwa hutangnya telah lunas.
Cabang-Cabang Kaidah

1. الأَصْلُ بَقَاءُ مَاكَانَ عَلَى مَاكَانَ /Yang menjadi asal sesuatu ditetapkan pada asalnya semula.

Penjelasan :

Apabila seseorang menjumpai keraguan mengenai hukum suatu perkara, maka diberlakukan hukum yang telah ada atau yang ditetapkan pada masa yang telah lalu, sampai ada hukum yang lain yang merubahnya, karena apa yang telah ada lebih dapat diyakini.

Contoh :

Berbuka puasa menjelang maghrib tanpa penelitian, kemudian timbul keraguan bahwa kemungkinan matahari belum terbenam, maka puasanya dihukumi batal, sebab menurut asalnya adalah berlakunya waktu sebelum maghrib.

2. الْأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ /Yang menjadi asal adalah bebas dari tanggung jawab.

Penjelasan :

Pada dasarnya manusia adalah bebas, tidak mempunyai tanggung jawab terhadap hak-hak orang lain. Adanya beban tanggung jawab adalah karena adanya hak-hak yang telah dimiliki atau perbuatan-perbuatan yang telah dia lakukan.

Contoh :

Seorang terdakwa menolak sumpah, tidak bisa dikenai hukuma, sebab menurut hukum yang asal ia bebas dari tanggung jawab, justeru pendakwa yang harus angkat sumpah.

3. مَنْ شَكَّ هَلْ فَعَلَ شَيْئًا أَوَّلًا ؟ فَالْأَصْلُ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ / Siapa yang merasa ragu, apakah ia telah mengerjakan sesuatu atau belum, maka yang menjadi asal adalah belum mengerjakan sesuatu.

Termasuk qaidah ini, 2 qaidah lain :

Pertama : مَنْ تَيَقَّنَ الْفِعْلَ وَشَكَّ فِي الْقَلِيلِ أَوْ الْكَثِيرِ حُمِلَ عَلَى الْقَلِيلِ لِأَنَّهُ الْمُتَيَقَّنُ /Siapa yang yakin telah mengerjakan (sesuatu), tetapi merasa ragu, apakah pekerjaannya itu sedikit atau banyak, maka pekerjaannya itu dibawa pada yang sedikit, karena itu yang meyakinkan.

Kedua : أَنَّ مَا ثَبَتَ بِيَقِينٍ لَا يَرْتَفِعُ إلَّا بِيَقِينٍ/Sesungguhnya apa yang tetapnya berdasarkan sesuatu yang meyakinkan, tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan pula.

Contoh :
• Di tengah-tengah shalat, seseorang ragu apakah ia telah melakukan satu rukun shalat atau tidak, ia wajib mengulangi shalatnya; karena yang menjadi asal ia belum melakukannya.
• Seseorang ragu-ragu, apakah shalatnya sudah 3 rakaat atau 4 rakaat, maka berarti ia sudah shalat 3 rakaat; karena 3 rakaat itu yang meyakinkan.

4. الْأَصْلُ الْعَدَمُ / Yang menjadi asal adalah ketiadaan perbuatan.

Contoh :

Usman berhutang kepada Umar dan mengaku telah membayar, sedangkan Umar mengatakan bahwa utang itu belum dibayar. Dalam hal ini keingkaran Umar yang dibenarkan, sebab menurut asalnya memang belum adanya pembayaran.

5.الْأَصْلُ فِي كُلِّ حَادِثٍ تَقْدِيرُهُ بِأَقْرَبِ زَمَنٍ / Yang menjadi asal dalam setiap kejadian adalah memperkirakannya dg waktu yang paling dekat dengannya.

Contoh :

Seorang berwudhu dari air sumur, kemudian dia shalat, setelah shalat dia melihat bangkai tikus di dalam sumur itu. Dia tidak wajib mengqadha (mengulang) shalatnya, kecuali dia yakin bahwa dia berwudhu dengan air yang najis.

6. الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيمِ / Yang menjadi asal dalam setiap sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Yang menjadi dasar qaidah ini adalah :

– Firman Allah :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah : 29)

– Hadits :

مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ ، فَاقْبَلُوا مِنْ اللَّهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا
Apa yang telah dihalalkan oleh Allah adalah halal, dan apa yang telah diharamkan Allah adalah haram, serta apa yang didiamkan oleh Allah adalah dimaafkan, maka terimalah kemaafan-Nya itu; karena sesungguhnya Allah tidak akan lupa akan sesuatu. (HR. al-Bazzar dan ath-Thabraniy dari Abu Darda’)

Penjelasan :

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang tidak ada ketegasan dalil tentang halal haramnya, maka harus dikembalikan kepada asalnya yaitu boleh.

Contoh :

Binatang yang sulit dipastikan keharamannya karena tidak adanya tanda-tanda yang bisa dikategorikan haram, adalah boleh/halal.

7. الْأَصْلُ فِي الْأَبْضَاعِ التَّحْرِيمُ / Yang menjadi asal dalam hubungan sex adalah haram.

Dasar kaidah ini :
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun : 5-7)

Penjelasan :

Hukum hubungan sex pada dasarnya adalah haram sampai ada sebab-sebab yang meyakinkan tanpa ada keragu-raguan yang menghalalkannya, yaitu dg akad nikah atau milk al-yamin.
Juga termasuk haram apabila dalam hubungan seorang laki-laki dg seorang wanita terdapat dua kemungkinan yang berlawanan, yaitu halal dan haram.

Contoh :

Apabila dikatakan pada seorang laki-laki bahwa di kampung A terdapat seorang atau beberapa orang wanita yang tidak boleh dikawini, tetapi siapa wanita itu tidak diketahui secara jelas, maka berdasarkan kaidah ini, laki-laki tersebut tidak boleh menjadikan isteri seseorang di kampung itu sebelum jelas wanita mana yang tidak boleh dikawini.

8. الْأَصْلُ فِي الْكَلَامِ الْحَقِيقَةُ / Yang menjadi asal dalam perkataan adalah yang hakikat/sebenarnya (bukan yang kiasan)

Penjelasan :

Bila suatu ucapan bisa diartikan secara hakiki dan bisa jadi pula diartikan secara majazi (kiasan) maka berdasarkan kaidah ini, arti hakiki yang harus dipegang.

Contoh :
Seorang mengatakan bahwa rumahnya diberikan kepada Usman, maka arti yang hakiki memberikan ini adalah memindahkan hak memiliki. Jika orang itu mengingkari dan mengatakan bahwa rumah itu hanya boleh ditempati saja, maka pengingkaran itu tidak dibenarkan, sebab yang menjadi asal dalam perkataan adalah arti hakiki.

METODE ISTINBATH HUKUM-HUKUM DAN KAIDAH-KAIDAHNYA

Penulis: Ustadz.H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
Materi Kuliah: Ushul Fiqh

METODE ISTINBATH HUKUM-HUKUM DAN KAIDAH-KAIDAHNYA (BAGIAN I)

Pada bagian yang pertama ini kita akan membiacarakan tentang beberapa kaidah bahasa yang ada hubungannya dengan Ushul Fiqih

PERTAMA : KATA DITINJAU DARI REDAKSI PENUNJUKKANNYA KEPADA SUATU MAKNA

A. AL KHOS

1. Definisinya

Menurut Bahasa

Sesuatu yang sendiri, seperti : اخْتَصَّ فُلانٌ بِكَذَا (seseorang itu mengkhusukan diri dengan demikia).

* Menurut istilah

Yaitu setiap kata yang dibuat untuk menunjukkan satu buah makna secara tersendiri.

Macam-macamnya

1. khosh syakhsyi (khusus perorangan), seperti nama-nama manusia : Zaid, Muhammad.
2. khosh nau’i (khusus dari sisi macamnya) seperti kata : رَجُلٌ (orang laki-laki) yaitu bahwa kata ini digunakan untuk menunjukkan satu makna, yaitu laki-laki yang telah melewati masa kecilnya.
3. khash jinsi (khusus dari sisi jenisnya) seperti kata : الإنِسَان (manusia), yaitu bahwa kata ini dibuat untuk menunjukkan satu buah hakekat, yaitu hewan yang berbicara.
4. Yaitu kata-kata yang dibuat untuk menunjukkan kepada hal-hal yang bersifat maknawiyah, bukan kepada dzat, seperti ilmu, kebodohan dan lain-lain.

hukumnya

Yaitu bahwa khosh itu menunjukkan kepada makna yang dibuat oleh redaksi katanya secara qoth’i. Ini selama tidak ada dalil lain yang mentakwilkan kekhususannya.

contoh-contohnya

a. Firman Allah dalam kafarat sumpah : فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ (Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). (Al Maidah : 89)

b. Hadits tentang nishob zakat : “ …….. Di dalam setiap empat puluh ekor kambing itu zakatnya adalah seekor kambing”.

Cabang cabang dari AL KHOS

A. MUTLAQ

1. Definisinya

Yaitu suatu kata yang menunjukkan kepada sesuatu yang tersiar pada jenisnya.

2. Hukumnya

Tetap berlaku pada kemutlakannya selama tidak ada qoid (ikatan) dan maknanya penunjukkannya adalah bersifat qoth’i (pasti).

3. contoh-contohnya

a. dengan tanpa qoid (ikatan)

Firman Allah : وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا (Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur). (Al Mujadilah : 3)

Nash ini tidak menjelaskan keadaan budak itu muslim atau tidak.

b. dengan qoid

Firman Allah : مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ (sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (An Nisa’ : 12)

Washiat pada nash itu adalah mutlak yang disebutkan qoidnya pada sebuah hadits yang masyhur pada kisah Sa’ad bin Abi Waqqosh : “Sepertiga dan sepertiga itu adalah banyak”.

B. MUQAYYAD

1. Definisinya

Yaitu suatu kata yang menunjukkan kepada sesuatu yang tersiar pada jenisnya dengan memberikan ikatan kepadanya dengan suatu sifat tertentu, dengan pengertian bahwa yang selain makna yang diikat itu adalah dianggap sebagai mutlak.

2. Hukumnya

Wajib mengamalkan sesuai dengan petunjuk dari ikatan itu, selama tidak ada dalil yang lainnya.

3. Pada kafarat

Pada kafarat pembunuhan yang salah Allah berfirman : فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ (maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak yang muslim). (An Nisa’ : 92). Maka ikatan keimanan itu adalah wajib diamalkan.

KEBERADAAN SUATU LAFADZ YANG MUTLAK DAN PADA WAKTU ITU JUGA MUQAYYAD

1. Jika hukum mutlak dan muqayyad itu adalah sama demikian juga sebab hukumnya

a. Contohnya

1) Yang Mutlak

Firman Allah : حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ (Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi). (Al Maidah : 3). Maka darah pada ayat itu adalah mutlak

2) Yang Muqayyad

Firman Allah : قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا (Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir). (Al An’am : 145). Maka pada ayat itu disebutkan qoid bagi darah itu yaitu keadaannya yang mengalir.

b. Hukumnya

Keadaan hukum yang sama yaitu haram. Dan sebabnya adalah sama, yaitu kemudlaratan yang timbul akibat meminum darah. Maka di sini yang mutlak itu dianalogkan kepada yang muqayyad.

2. Jika mutlak dan muqayyad itu berbeda hukum dan sebabnya

a. Contohnya

1) Yang Mutlak

Firman Allah : وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا (Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya). (Al Maidah : 38)

Catatan : Kemutlakan pada ayat ini disebutkan qoidnya pada perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu memotong sampai siku-siku.

2) Yang Muqayyad

Firman Allah : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku). (Al maidah : 6)

b. Hukumnya

Di sini yang mutlak itu diamalkan sesuai dengan kemutlakannya dan yang muqayyad itu diamalkan sesuai pada tempatnya masing-masing.

3. Jika hukumnya berbeda dan sebabnya sama

a. Contohnya

1) Yang Mutlak

Firman Allah : فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ (maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu). (Al Maidah : 6)

2) Yang Muqayyad

Firman Allah : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku). (Al maidah : 6)

b. Hukumnya

Kami perhatikan bahwa hukum itu berbeda. Yang pertama mengusap dan yang kedua membasuh. Tetapi sebabnya sama, yaitu hendak mendirikan shalat. Maka berdasarkan hal itu maka masing-masing dari keduanya diamalkan sesuai dengan kemutlakan dan kemuqayayadanya masing-masing.

4. Jika hukumnya sama dan sebabnya berbeda

a. Contoh-contohnya

1) Yang mutlak

Firman Allah tentang kafarat Dzihar : فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur). (Al Mujadilah : 3)

2) Yang muqayyad

Kafarat Pembunuhan yang salah : فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ (maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak yang muslim). (An Nisa’ : 92).

b. Hukumnya

1) Madzhab Hanafi

Yang mutlak diamalkan sesuai dengan kemutlakannya seperti yang disebutkan dan yang muqayyad diamalkan sesuai dengan kemuqayadannya seperti yang disebutkan.

2) Jumhur

Yang mutlak dianalogkan kepada yang muqayyad.

KEDUA : PERINTAH (AL AMR)

1. Definisinya

Yaitu suatu kata yang dibuat untuk meminta suatu perbuatan dari atas ke bawah

1. Contoh-contoh bentuk kata perintah
1. Bentuk kata kerja perintah

Firman Allah : أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ (Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir). (Al Isra’ : 78)

1. Fi’il Mudlari’ yang bersambung dengan lamul amri

Firman Allah : فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu). (Al Baqoroh : 185)

1. Kalimat berita yang dimaksudnya memerintah, bukan untuk memberitahukan

Firman Allah : وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ (Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan). (Al Baqoroh : 233)

1. Permasalahan ini diperselishkan dari sisi bahwa makna-makna perintah itu dari sisi hakekat atau majaz. Dan masing-masing memiliki dalilnya. Adapaun yang kami tarjih adalah pendapat jumhur bahwa perintah yang mutlak itu menunjukkan kepada kewajiban. Maka makna ini adalah hakekat padanya dan majaz pada makna yang lainnya. Karena itulah tidak dialihkan kepada selain kewajiban kecuali jika ada qorinah (sebab lain yang mengiringi). Dan dalil-dalilnya adalah banyak.

1. Perintah setelah larangan
1. Madzhab Hambali, Maliki dan Dzahiri

Sesungguhnya perintah itu menunjukkan kepada kemubahan. Ini banyak disebutkan di dalam syari’at. Diantaranya adalah firman Allah : وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا (apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu). (Al Maidah : 2), yang disebutkan setelah pengharaman berburu pada firman Allah : غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ (dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji).(Al Maidah : 1). Maka jadilah perintah untuk berburu itu untuk menunjukkan kemubahan.

1. Sebagian Madzhab Hambali dan Hanafi

Yaitu untuk menghilangkan larangan dan mengembalikan perbuatan kepada keadaannya sebelum adanya larangan. (ini adalah pendapat yang rajih).

1. Banyak pengikut Madzhab Hanafi

Perintah itu menunjukkan kewajiban.

1. Perintah menunjukkan ketersegeraan (faur) atau kelonggaran waktu (tarakhi).

Ini diperselisihkan di kalangan para ulama. Dan yang rajih –wallaahu a’lam- adalah perincian seperti berikut :

1. Dibatasi dengan waktu

1. waktu yang luas

boleh mengakhirkan sampai akhir waktu. Dan mengerjakannya dengan segera adalah lebih baik, berdasarkan firman Allah : وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ (Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu). (Ali Imran : 133)

1. waktu yang sempit

Tidak boleh diakhirkan, seperti puasa Ramadlan.

2. tidak dibatasi dengan waktu

Contohnya adalah kafarat-kafarat. Ini adalah kelonggaran waktu dalam menunaikannya, walaupun bersegera menunaikannya adalah lebih utama.

1. Perintah itu menunjukkan keshahihan
1. Maknanya

Yaitu bahwa mengerjakan perintah yang diperintahkan seperti yang dikehendaki oleh perintah itu, maka pekerjaan itu adalah sah.

1. Contohnya

Barangsiapa yang mencari air kemudian dia tidak menemukannya dan menunaikan shalat dengan tayamum, kemudian dia menemukan air pada waktu itu sebelum waktu shalat habis, maka shalat itu tidak menjadi batal, karena dia telah melakukan shalat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah pada firmannya : فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا (Kemudian kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah). (An Nisa’ : 43)

KETIGA : LARANGAN (AN NAHY)

1. Definisinya
1. Menurut bahasa adalah larangan
2. Menurut istilah adalah permintaan untuk tidak melakukan perbuatan dari atas ke bawah dengan kata (shighah) yang menunjukkan kepadanya.

Bentuk-bentuk kalimatnya (shighah)

Yaitu dengan لاَ nahi (larangan) dan dengan pewanti-wantian dengan kata : إيَّاكَ dan semisalnya serta dengan ungkapan yang redaksinya menunjukkan larangan dan pengharaman.

1. Yang ditunjukkan oleh larangan

Masalah ini diperselisihkan dan yang rajih adalah pendapat jumhur bahwa larangan itu untuk menunjukkan makna pengharaman. Ini adalah makna yang hakikat yang merupakan maknanya secara bahasa dan tidak digunakan pada makna yang lainnya kecuali dengan jalur majaz. Dan qorinahlah yang menunjukkan makna pengalihan itu.

1. Ketersegeraan (al faur) dan pengulang-ulangan (at tikrar)

Yang rajih dari pendapat-pendapat tentang hal ini adalah bahwa larangan itu menunjukkan tuntutan ketersegaraan dan pengulang-ulangan. Karena kerusakan itu tidak dapat ditinggalkan kecuali dengan menahan diri dengan segera dan untuk selama-lamanya.

1. Apakah larangan itu menunjukkan kerusakan (fasid). Ini harus diperinci.

a. sesuatu yang dilarang karena dzat perbuatan itu sendiri, sehingga larang itu berpengaruh kepada hakikat perbuatan itu sendiri

1) Contohnya

a) menjual sesuatu yang tidak ada

b) Sholat dengan tanpa wudlu

2) Hukumnya

Perbuatan itu dianggap rusak (fasid) dan batal, sehingga kedudukannya sama dengan sesuatu yang tidak ada.

1. jika larangan itu tidak tertuju kepada dzat perbuatan itu, tetapi kepada sesuatu yang berdekatan dengannya

1) Contohnya

a) larangan jual beli pada waktu adzan untuk shalat Jum’at.

b) Shalat di tanah yang rampasan (ghosob)

2) Hukumnya

Perbuatan itu memiliki akibat yang telah ditentukan oleh syari’at dengan diiringi kemakruhan, karena dilarang oleh syari’at

1. jika larangan itu tertuju kepada beberpa syarat dari perbuatan yang harus ada bagi perbuatan itu, bukan kepada dzat perbuatan itu.

1) Contohnya

a) berpuasa pada hari raya

b) jual beli dengan tidak memnuhi syarat

2) Hukumnya

Jumhur berpendapat bahwa pebuatan itu adalah fasid dan bathal. Dan Madzhab Hanafi membedakan antara ibadah dan mu’amalah.

KEDUA : DILALAH KATA KEPADA MAKNA

1. Kata ditinjau dari sisi jelas atau samar dilalahnya kepada makna
2. Macam-macamnya

1. Yang jelas dilalahnya (dimulai dari yang paling samar kemudan yang lebih kuat dan seterusnya)

a. Dzahir

1) Definisinya

a) Maknanya menurut bahasa adalah sesuatu yang jelas

b) Maknanya menurut istilah adalah yang jelas maknanya dengan sendirinya dan yang dikehendaki adalah tidak dimaksud secara orisinil dalam konteks kalimat.

c) Praktek

Allah berfirman : فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً (maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja).An Nisa’ : 3)

v Yang Dzahir adalah kemubahan menikahi wanita-wanita yang dihalalkan

v Maksudnya adalah kebolehan poligami sampai empat wanita ketika dapat berbuat adil kepada mereka.

2) Hukumnya

a) boleh jadi maknanya dialihkan dari dzahirnya seperti jika ada dalil yang mengkhususkan, jika dzahir itu berupa kata yang umum atau disebutkan qoidnya jika kata yang dzahir itu adalah muttlak.

b) Wajib mengamalkan maknanya yang dzahir selama tidak ada dalil yang mengharuskan pengalihan makna darinya.

c) Nasakh dari dilalah ini diterima hanya masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja.

1. Nash

1) Definisinya

Yaitu sesuatu yang dengan kata dan bentuknya menunjukkan kepada sutu makna dan makna itu adalah yang dimaksud secara orisinil dalam konteks kalimat itu.

2) Contohnya

Firman Allah : وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا (Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba). (Al Baqoroh : 275) Maka nash itu menjelaskan perbedaan antara jual beli dan riba.

3) Hukumnya

Sama dengan hukum dzahir

4) Perbedaan antara dzahir dan nash

a) Dilalah nash itu lebih kuat daripada dilalah dzahir

b) Makna nash itu adalah merupakan maksud yang asli (orisinil) dalam konteks kalimat

c) Kemungkinan nash dari takwil adalah lebih jauh daripada dzahir.

d) Ketika ada kontradiksi maka yang didahulukan adalah nash.

1. Mufassar

1) Definisinya

a) Menurut bahasa adalah sesuatu yang telah ditulis maknanya

b) Menurut istilah adalah sesuatu yang lebih jelas daripada nash dan dengan sendirinya menunjukan kepada makna yang terperinci kepada suatu sisi yang tidak mengandung penakwilan. Ini dapat dinaskh hanya pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja.

2) Contohnya

Firmannya Allah : وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً (dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya). (At Taubah : 36)

Maka kata كَافَّة (semuanya) itu menghilangkan kemungkinan adanya takhsish dari kata “orang-orang kafir” itu.

3) Hukumnya

Wajib mengamalkannya seperti yang dijelaskan rinciannya dan seperti apa yang ditunjukkanya secara qoth’i.

1. Muhkam

1) Definisinya

a) Menurut bahasa adalah ….

b) Menurut istilah adalah kata yang dilalahnya kepada makna sudah jelas dengan sendirinya dengan kejelasan yang lebih kuat daripada mufassar dan tidak dapat ditakwilkan dan tidak dapat dinasakh.

2) Cantoh-contohnya

a) Nash-nash yang menjelaskan tentang keimanan dan hari akhir

b) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Jihad itu tetap berlangsung sampai hari kiamat”.[1]

3) Hukumnya

Wajib mengamalkannya

2. Yang samar dilalahnya (dimulai dari yang paling samar kemudan yang lebih kuat dan seterusnya)

a. Khofi

1) Definisinya

Yaitu suatu kata yang dilalahnya kepada maknanya adalah jelas, tetapi kesesuaian maknanya terhadap beberapa personil maknanya adalah ada sisi kesulitan dan kesamarannya yang membutuhkan pemikiran.

2) Prakteknya

Nash hadits : “Pembunuh itu tidak mewarisi”.[2] Maka dilalahnya pada dzahirnya adalah jelas. Tetapi prakteknya terhadap pembunuh tertentu adalah ada sedikit kesamaran, karena kemungkinan kata itu maksudnya adalah pembunuhan yang sengaja dan yang tidak sengaja. Karena itulah para fuqoha’ berselisih pendapat tentang pewarisan pembunuh yang salah.

3) Hukumnya

Wajib melakukan kajian dan pemikiran pada sesuatu yang baru yang menyebabkan kesamaran itu para penerapan kata itu kepada beberapa personilnya.

b. Musykil

1) Definisinya

a) Menurut bahasa masuknya sesuatu pada sesuatu yang lain yang sepadan dan semisal dengannya.

b) Menurut istilah adalah yaitu suatu nama untuk sesuatu yang serupa …….

2) Contoh-contohnya

Yaitu kata-kata yang musyratarak, karena sesungguhnya kata itu secara bahasa dibuat untuk menunjukkan lebih dari satu makna, seperti firman Allah : وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ (Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru). (AL Baqoroh : 228)

3) Hukumnya

Wajib melakukan pembahasan dan penelitian terhadap qorinah-qorinah yang menunjukkan kepada makna yang dikehendaki dari kata yang musykil itu.

c. Mujmal

1) Defisnisinya

a) Secara bahasa adalah sesuatu yang tidak nyata

b) Menurut istilah adalah suatu kata yang samar maksudnya yang tidak diketahui kecuali dengan ada penjelasan dari pembicara

2) Sebabnya

a) karena kata yang digunakan adalah kata yang musytarak

b) Karena keterasingan kata yang digunakan seperti pada firman Allah : الْقَارِعَة (Hari kiamat).

c) Pemindahan kata dari maknanya menurut bahasa kepada maknanya menurut istilah

3) Hukumnya

Tawaqquf (berhenti) sampai adanya penjelasan dari syari’at yang dapat menghilangkan kemujmalannya dan menyingkap maknanya.

KETIGA : METODE DILALAH KATA KEPADA MAKNA

A. Maksudnya adalah metode-metode penunjukan (dilalah) suatu kata kepada suatu makna

B. Metode-metode dilalah yang diperhatikan

1. yang menunjukkan dengan dilalah ibarat (penunjukan ungkapan) nash

a. maksudnya

yaitu yang suatu dilalah dari duatu kata yang langsung dipahami oleh akal untuk pertama kalinya dari bentuk (shighoh) kata itu sendiri.

b. contohnya

Firman Allah : وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ (Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar) (Al Isra’ : 33)

Maka ungkapan yang disebutkan oleh kata-kata itu menunjukkan pengharaman membunuh jiwa.

2. yang menunjukkan dengan isyarat nash

a. maksudnya

yaitu penunjukkan suatu kata kepada suatu makna yang tidak dimaksud oleh konteks kalimatnya, tetapi makna itu merupakan keharusan dari makna yang dikehendaki oleh konteks kalimat itu.

b. Contohnya

Firman Allah : أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ (Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu). (Al Baqoroh : 187)

i. yang ditunjukkan oleh dilalah ibarat nash adalah kebolehan bercampur dengan istri sampai bagian terakhir dari malam

ii. sahnya puasa seseorang yang pada waktu pagi hari masih dalam keadaan junub. Makna inilah yang merupakan keharusan dari konteks itu. Karena pemberian kelonggaran bercampur sampai bagian terakhir dari waktu mengharuskan adanya dua buah sifat yang berkumpul pada seseorang yang berpuasa, yaitu sifat junub dan sifat puasa.

3. yang menunjukkan dengan dilalah nash (mafhum muwafaqoh)

a. maksudnya

yaitu penunjukkan suatu kata bahwa suatu hukum yang disebutkan itu juga tetap kepada hukum yang didiamkan karena kesamaanya di dalam illat hukumnya yang dapat dipahami dengan hanya memahami bahasa, tanpa melakukan penyelidikan yang detail dna ijtihad.

b. contohnya

Firman Allah : فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ (Maka janganlah kamu berkata : “Ah” kepada keduanya).

Ø yang ditunjukkan oleh dilalah ibarat nash adalah pengharaman untuk mengatakan “ah” kepada kedua orang tua.

Ø mafhum muwafaqohnya adalah pengharaman memukul dan mencela. Hukum yang didiamkan ini adalah lebih keras daripada yang disebutkan itu.

4. yang menunjukkan dengan iqtidlo’ (tuntutan, konsekwensi) nash

a. Maksudnya

Yaitu suatu ungkapan yang merupakan tambahan dari yang disebutkan di dalam nash dan syaratnya adalah harus disebutkan di awal agar memiliki faedah dan mengharuskan tetapnya suatu hukum.

b. Contohnya

Firman Allah : حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ (Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan). (An Nisa’ : 23). Maka perkiraan makna dari nash itu adalah : diharamkan bagi kalian (menikahi) ibu-ibu dan anak-anak perempuan kalian. Makna ini ditinjau dari sisi iqtidlo’ (tuntutan).

‘AM DAN MUSYTARAK

PERTAMA : ‘AM (UMUM)

1. Definisinya

1. Menurut Bahasa adalah sesuatu yang mencakup dan berbilang
2. Menurut istilah adalah suatu kata yang mencakup keseluruhan hal yang layak baginya dengan satu buah redaksi kata, secara serentak (spontan), dengan tanpa batasan.

1. Contoh-contohnya

Firman Allah : وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun). (Al Kahfi : 49). Demikian juga kata رَجُل (orang laki-laki). Karena kata ini mencakup keseluruhan personil yang dapat layak dicakup oleh makna yang ditunjukkannya.

1. Kata-kata Yang menunjukkan keumuman

1. Kata كُلٌّ daan جَمِيْع

Contohnya firman Allah : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati). (Ali Imran : 185).

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap pemimpin itu bertanggung jawab kepada yang dipimpinnya”.[1]

1. Kata tunggal yang dimasuki ال makrifat yang menunjukkan keumuman (istighroq) atau yang diidlafahkan

Contoh kata makrifat yang menunjukkan makna umum adalah firman Allah : وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian). (Al ‘Ashr : 1 – 2)

Dan contoh yang diidlafahkan adalah firman Allah : وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا (Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya). (Ibrahim : 34)

1. Jamak yang dimakrifatkan dengan الْ yang menunjukkan keumuman (istighroq) atau dengan idlafah;

Contoh yang dimasuki ال istighroq : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik). (Al Maidah : 13)

Contoh yang diidlafahkan : حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ (Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian). (An Nisa’ : 23)

1. Isim-isim maushul

Contohnya firman Allah : إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)).(An Nisa’ : 10)

1. Semua kata-kata pertanyaan seperti مَنْ , مَا , أيْنَ , كَيْفَ

Contoh-contohnya :

Firman Allah : وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ((Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya). (Al Baqoroh : 197)

Firman Allah : كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?). (AL baqoroh : 28)

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Washiat itu tidak boleh kepada ahli waris”.[2]

1. Kata nakirah dalam konteks larangan atau kalimat negatif, seperti firman Allah : وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا (Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka). (At Taubah : 84)

1. sedikitnya jamak

Menurut pendapat jumhur adalah dua.

Dalilnya adalah firman Allah : فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ (dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan). An Nisa’ : 11)

Maka yang dijadikan sebagai pedoman adalah –berbeda dengan Ibnu Abbas- bahwa dua orang itu masuk ke dalam hukum yang disebutkan oleh ayat itu.

1. Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk pada Khitab yang ditujukan kepada ummatnya

Menurut jumhur adalah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam hal itu.

1. pengkhususan (takhshish) umum

1. Definisinya

Yaitu membatasi keumuman kepada beberapa personilnya. Dan dalil yang menunjukkan kepadanya disebut mukhsahshish (yang mengkhususkan)

1. Perbedaan antara takhshish) dan nasakh.

1) Nasakh adalah menghapus hukum setelah hukum itu tetap. Dan takhshish adalah menjelaskan bahwa sesuatu yang lafadznya umum itu kadang-kadang maksudnya adalah sebagian.

2) Nasakh itu tertuju kepada setiap personil, sedangkan takhshish itu hanya tertuju kepada sebagian personil.

Catatan :

Nasakh itu akdang-kdang berupa pengecuali sebagian dan kadang-kedang seluruhnya, sedangkan takhsish itu tidak terjadi kecuali hanya pengecualian sebagiannya saja.

3) Nasakh itu menunjukkan bahwa yang dinasakh itu sudah dikehendaki sebelum adanya nasakh.

4) Takhsish itu boleh dengan menggunakan dalil akal dan naqal. Sedangkan nasakh itu tidak boleh kecuali dengan menggunakan dalil naqal saja.

1. Macam-macam takhshish

1) Takhsish Munfashil (terpisah)

a) Defnisinya

Yaitu takhsish yang berdiri sendiri dan bukan merupakan bagian dari kalimat yang mengandung kata yang umum

b) Bentuk-bentuknya

i) Pembicaraan yang sempurna dengan dirinya sendiri yang disebutkan dengan kata yang umum itu.

Contohya :

Yang umum : فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu).

Dan takhsishnya : وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain)(AL baqoroh : 185)

ii) Pembicaraan yang sempurna dengan dirinya sendiri yang terpisah dengan nash yang umum

Contohnya :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ (Diharamkan bagimu (memakan) bangkai). (Al Maidah : 3) ini adalah umum untuk setiap bangkai.

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Dia adalah suci airnya dan halal bangkainya”, yaitu mengkhususkan bangkai ikan laut dari keumuman.

iii) Akal

Akal dapat menjadi dalil takhsish terhadap seluruh nash-nash yang mengandung taklif syari’at yang hanya boleh dilakukan oleh para ahli ijtihad. Syari’at menegaskan dalil akan ini, seperti pada firman Allah : وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ (dan agar kalian mendiirkan shalat). (Al An’am : 72). Perintah yang umu ini dikhususkan anak-anak kecil dan orang-orang yang gila.

2) Takhsish muttashil (bersambung)

a) Definisinya

Yaitu takhsish yang merupakan bagian dari ungkapan nash yang mengandung kata yang umum. Jadi pembicaran itu tidak sempurna dengan dirinya sendiri.

b) Bentuk-bentuknya

i) Istitsna’ (pengecualian)

v Definisinya

Yaitu ungkapan kata yang merupakan bagian dari kalimat dan kata itu tidak dapat berdiri sendiri yang dengan kata-kata pengecualian itu menunjukkan bahwa yang ditunjukkan oleh ungkapan itu tidak dikehendaki. Dan pengecalian (istitsna’) itu disyaratkan harus bersambung dengan sesuatu yang dikecualikan (mustatsana minhu).

v Contohnya

Firman Allah : مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ (Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)). (An Nahl : 106)

ii) Sifat maknawiyah

v Contohnya adalah firman Allah : حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ (Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian). Sampai pada firman Allah : وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ (anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri). (An Nisa’ : 23). Maka pengharaman anak-anak istri itu terbatas pada anak-anak istri yang telah dicampuri saja.

iii) Syarat

v Definisinya

Yaitu sesuatu yang disyaratkan itu tidak ada tanpa dengannya dan keberadaannya tidak mengharuskan keberadaan sesuatu yang disyaratkan.

v Bentuk katanya (Shighoh)

إنْ syarthiyah, إذَ , مَنْ dan إمَّا berdasarkan firman Allah : وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ (Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat). (Al Anfal : 58)

v Contohnya

Firman Allah : وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ (Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak). (An Nisa’ : 12)

1. Dilalah (penunjukkan) dari kata yang umum, apakah bersifat qoth’i (pasti) atau dzanni (dugaan) ?

1. Menurut jumhur adalah diperinci, yaitu :

1) Dilalah kata yang umum kepada makna asalnya adalah bersifat qoth’i

2) Dan dilalah kata yang umum kepada masing-masing personilnya adalah bersifat dzanni, yaitu karena boleh jadi ada suatu dalil yang mengkhususkannya yang tidak kita ketahui. Karena dari penelitian terhadap nash-nash yang mengandung kata-kata yang umum banyak sekali nash-nash itu yang dikhususkan.

1. Praktek

1) Larangan untuk membunuh binantang buruan adalah bersifat qoth’i

2) Larangan untuk memmbunuh masing-masing hewan buruan adalah bersifat dzanni.

1. Kaidah-kaidah

1. Yang diperhatikan adalah keumuman kata, bukan kekhususan sebab. Sesungguhnya turunnay ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah memiliki sebab-sebab yang khsusus. Tetapi kata-katanya adalah umum. Maka pada waktu itu wajib menafsirkan kata-kata itu sesuai dengan keumumannya.

Contohnya :

Air laut yang pertanyaan adalah tentang wudlu. Maka jawabnya adalah : “Dia adalah suci airnya dan halal bangkainya”. Maka disini tidak dikatakan bahwa air itu hanya boleh digunakan untuk thaharah dengan wudlu’ saja. Ini selama jawabannya juga tidak bersifat khusus. Karena itulah Imam Syafi’i berkata : “Sebab itu tidak berbuat apa-apa, tetapi yang dapat berbuat adalah kata-kata”. Dan contoh yang lainnya adalah ayat tentang li’an yang turun berkenaan dengan satu sebab yang khusus, yaitu tuduhan Hilal bin Umayyah terhadap istrinya telah berzina. Sedangkan ayat itu adalah berlaku umum terhadap semua suami istri jika mereka menusuh istrinya telah berbuat zina.

1. Keumuman dan kehususan itu bertingkat-tingkat. Maka suatu kata itu umum ditinjau dari tingkat di bawahnya tetapi kata itu lebih khusus dari tingkat di atasnya.
2. Dali yang mengkhususkan itu harus dikaji sebelum mengamalkan dalil yang umum.

Contoh :

Jika ada seorang laki-laki dari ahlul bait yang miskin yang meminta bagian zakat, kemudian seorang ahli fiqih melihat firman Allah : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ (Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin). At taubah : 60) kemudian dia berfatwa bahwa lak-laki itu boleh mengambil zakat itu karena keumuman “orang-orang yang fakir”. Maka fatwa itu adalah salah karena keberadaan hadits yang mengkhususkan, yaitu sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya zakat itu tidak layak bagi keluarga Muhammad”.[3]

KEDUA : MUSYTARAK

1. DEFINISINYA

Yaitu kata yang dibuat untuk menunjukkan dua buah makna atau lebih dengan berbagai macam kondisi.

1. CONTOH-CONTOHNYA
1. Yang menunjukkan dua buah makna

Kata الْقُرْء dibuat untuk menunjukkan makna suci dan haid yaitu bahwa dari sisi bahasa kata itu digunakan untuk menunjukkan masa tertentu yang dibiasakan dari dua hal itu.

2. Yang menunjukkan lebih dari dua makna

Kata الْعَيْن digunakan untuk menunjukkan penglihatan, mata air atau mata-mata.

1. HUKUM MUSYTARAK

Musytarak itu diteliti sehingga ditemukan bahwa musytarak itu terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Musytarak antara makna bahasa dan makna istilah, sehingga yang dijadikan pedoman adalah makna istilah.

Contohnya adalah : firman Allah : وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ (dan agar kalian mendiirkan shalat). (Al An’am : 72). Maka yang dimaksud dengan shalat itu adalah shalat menurut istilah syari’at.

1. musyatak bahasa saja. Maka disini harus ditafsirkan kepada satu makna saja.

Maka dengan demikian yang dikehendaki dari musytarak itu hanyalah satu makna saja dan makna itu diketahui dengan berbagai macam qorinah yang dapat dijadikan sebagai pedoman.

Contohnya adalah firman Allah : وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ (Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru). (AL Baqoroh : 228)

___________________________________________________________

[1] Al lu’lu’ wal marjan ( 1199)

[2] Daruquthni dari Jabir dan dishahihkan oleh Al Albani ( 7441)

[3] Diriwayatkan oleh Muslim

[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud bab Jihad ( 33)

[2] Diriwayatkan oleh Ad darimi ( 3084) dan Ahmad ( I : 49)

Definisi Cinta

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)

Beberapa definisi cinta:

* Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).

* Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.

* Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.

* Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.

* Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

PEMBAGIAN CINTA

* Cinta ibadah
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.

* Cinta karena Allah
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.

* Cinta yang sesuai dengan tabi’at (manusiawi),
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:
o Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.

o Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.

o Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.

Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.

KEUTAMAAN MENCINTAI ALLAH

* Merupakan Pokok dan inti tauhid
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa’dy, “Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)

* Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: “Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami’ Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)

* Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah
Berkata Ibn Qayyim, “Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).

* Menghalangi dari perbuatan maksiat.
Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): “Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.

Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbedaan antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.

Sampai pada ucapan beliau, “Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)

* Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.
Berkata Ibnu Qayyim, “Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbedaan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)

* Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan.
Berkata Ibn Qayyim, “Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta’ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta’ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.

Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya.”(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)

ORANG-ORANG YANG DICINTAI ALLAH Subhannahu wa Ta’ala

Allah Subhannahu wa Ta’ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat Al-Ma’idah: 54, yang artinya: “Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.”

Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta’ala :

* Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).

* Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.

* Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.

* Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.

* Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.

* Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.

* Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.

SEBAB-SEBAB UNTUK MENDAPATKAN CINTA ALLAH Subhannahu wa Ta’ala

* Membaca Al-Qur’an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.

* Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.

* Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta’ala , baik de-ngan lisan, hati maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.

* Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta’ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.

* Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.

* Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.

* Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

* Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur’an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.

* Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da’i, mendengar-kan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembica-raan yang baik.

* Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta’ala .

(Disadur dari kalimat mutanawwi’ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad/alsofwah).